Satria: The chapter I started and ended in Hamburg

Satria: The chapter I started and ended in Hamburg

  • WpView
    Reads 31
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 22
WpMetadataReadComplete Mon, Feb 2, 2026
Bagiku, Hamburg bukanlah tempat untuk mencari petualangan baru, melainkan sebuah pelarian. Aku membawa luka yang masih basah dari Indonesia-luka yang bernama Satria. Ribuan kilometer aku tempuh hanya untuk menjauh dari bayang-bayang lelaki itu, berharap dinginnya salju Jerman bisa membekukan rasa sakit yang tak kunjung reda. Namun, melarikan diri ternyata tidak pernah sesederhana memesan tiket pesawat. Di tengah keheningan kota Hamburg yang tertutup salju, aku justru dipaksa berhadapan kembali dengan semua memori tentang Satria yang belum usai. Di kota pelabuhan ini, aku tidak lagi sedang berlari, melainkan sedang belajar untuk benar-benar berhenti. Hamburg menjadi ruang isolasi tempatku membedah kembali setiap kepingan masa lalunya dengan Satria. Antara kerinduan yang tersisa dan kenyataan yang menyakitkan, aku mulai menyadari satu hal: bahwa perjalanan ini bukan tentang menemukan Satria kembali, melainkan tentang menemukan diriku sendiri yang sempat hilang karena cinta itu. Sebuah catatan jujur tentang pendewasaan diri dan keberanian untuk menutup sebuah buku yang tebal. Di Hamburg-lah, bab yang penuh luka itu akhirnya benar-benar aku selesaikan
All Rights Reserved
#27
jerman
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • MINE, NO ONE ELSE (ON GOING)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • The Dateline [END]
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Be My Wife
  • Silent Traces by the Sea

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines