Neraca keadilan

Neraca keadilan

  • WpView
    Reads 343
  • WpVote
    Votes 125
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 2, 2026
Di dunia ini, keadilan hanyalah sebuah angka yang dipaksakan untuk seimbang. Zalina Mei Danuarta memahami satu hal pahit: hukum tidak pernah berpihak pada mereka yang jujur, melainkan pada mereka yang memegang dadu. Sepuluh tahun lalu, ia menyaksikan ayahnya-sang penjaga tunggal harta negara-dijadikan tumbal dan diseret ke tiang eksekusi. Di saat yang sama, kehormatan ibunya dikoyak oleh fitnah keji yang disusun rapi oleh satu orang: sahabat karib ayahnya sendiri yang kini bertahta sebagai Menteri Koordinator. Kini, Zalina kembali sebagai hantu di balik angka-angka. Ia membawa sebuah kebenaran dingin: bahwa Neraca bukan sekadar soal keseimbangan (balance). Di tangan yang ahli, garis tipis dalam neraca bisa berubah menjadi belati yang lebih tajam dari pedang mana pun untuk menyembelih tuannya sendiri. Neraca memang buta. Ia tidak memiliki nurani untuk membedakan antara peluh keringat dan darah. Begitu pun dengan keadilan; keduanya hanyalah alat yang selama ini dimainkan oleh para pemenang, sementara orang jujur hanya berakhir sebagai tumbal di kolom kerugian. Zalina tidak datang untuk memohon belas kasih. Ia datang untuk mengaudit nyawa. Ia akan memastikan sang Menko membayar setiap "defisit" moralnya dengan bunga yang mematikan. Sebab pada akhirnya, setiap utang harus lunas. Dan setiap darah harus masuk dalam hitungan.
All Rights Reserved
#974
politik
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Place You Left Me (Menuz) [END]
  • Gila!?, Gue Jadi Kucing?!
  • Unexpectedly Yours
  • Dua Langit Berbeda
  • My Step Mom? [END] ✔️
  • MOTHER
  • Stealing My Husband
  • BOUND WITHOUT LOVE (END)
  • ATMA FATAMORGANA
  • GAREL ; POSESIF BROTHER

🌴🎀 "Di rumah yang asing, mereka belajar bahwa jarak bisa menyusut hanya dengan satu kalimat: Jangan terlalu jauh." "Kadang cinta tidak datang sebagai dentuman... tapi sebagai langkah kecil yang hampir tidak terdengar."

More details
WpActionLinkContent Guidelines