
Celine adalah anak bungsu dari keluarga kelas bawah. Ia memiliki tiga saudara laki-laki. Karena faktor ekonomi, suaminya memerintahkan istrinya untuk menggugurkan kandungan itu saat Celine masih berada di dalam rahim. Istrinya menolak. Namun penolakan itu tidak menghentikan pria itu. Ia menarik lengan istrinya dengan kasar, menyeretnya ke sebuah tempat ilegal- tempat aborsi. Dengan sisa hati nurani yang ia miliki, ibu Celine memilih kabur. Dalam kondisi hamil delapan bulan, perutnya membesar, langkahnya limbung, napasnya terengah. Ia berlari tanpa arah. Tanpa tujuan. Tanpa perlindungan. Hingga kontraksi datang. Pendarahan hebat menyusul. Dengan tubuh yang hampir tak sanggup berdiri, ia menyeret dirinya menuju sebuah ladang jagung milik warga. Di tempat yang tak layak itu, sendirian, tanpa bantuan siapa pun, ia melahirkan Celine. Selama berjam-jam, ia menahan rasa sakit. Menggigit pakaiannya sendiri agar suaranya tak terdengar. Menahan jeritan. Menahan tangis. Mempertaruhkan hidup dan matinya sendiri. Dan di tanah yang basah oleh darah dan air mata, terlahirlah seorang bayi perempuan. Walau tubuhnya hampir tak memiliki tenaga, ia tetap memeluk bayinya. Membungkusnya dengan kain yang ia temukan di ladang itu. Sambil menangis merintih pilu. Pada akhirnya ibunya celine pulang kerumah dan membawa celine bersamanya. Tiga anak laki-lakinya hanya berdiri kebingungan. Tak mengerti tentang apa yang terjadi. Tak lama kemudian, pria itu pulang dalam keadaan mabuk. Ayah mereka. Matanya merah. Langkahnya limbung. Napasnya berbau alkohol. Tatapannya jatuh pada bayi di pelukan istrinya. "Untuk apa kau melahirkan anak jika dia perempuan. Aku menyuruhmu untuk mengarbosinya tapi kau malah kabur," ujar pria itu dengan setengah kesadarannya. "Anak perempuan itu hanya beban." Lalu ia mendekat. "Jika kau tak ingin aku membunuhnya lebih baik kau jual saja," katanya pelan.Tüm hakları saklıdır
1 bölüm