Wanita Malam Yang Melamarku

Wanita Malam Yang Melamarku

  • WpView
    Reads 48
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 28, 2026
Warning area 🔞 Mohon bijak memilih bacaan *Blurb* "Aku terkesan dengan pelayananmu malam ini. Kau masih gadis. Aku beruntung mendapatkanmu. Esok, aku akan datang lagi." Bulir bening itu jatuh ke pipi Andara. Ia tidak mau dipesan lagi, ia bukan barang dagangan. Ia wanita baik-baik yang terperangkap dalam tempat menyeramkan dan menjij*kan seperti ini. "Saya tidak mau, Pak. Saya tidak mau melayani bapak atau siapapun." Andara menunduk hingga air matanya jatuh lebih banyak ke atas bantal. Zayyan menatapnya dalam-dalam, lantas menyeringai tipis. "Aku berani bayar dua kali lipat dari malam ini." "Kalau begitu... tolong nikahi saya saja, Pak..." Zayyan terkesiap. Nikahi katanya? Apa dia tak salah dengar? Ia baru saja dilamar wanita malam? "Saya akan layani bapak sepuas hati bapak. Saya janji, tidak akan meminta nafkah. Bapak boleh menyentuh saya kapanpun bapak inginkan. Tolong... nikahi saya."
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Salah Status
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Prahara Lamaran [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Nakula

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines