Samudra tumbuh dari sebuah kehilangan yang tidak pernah selesai.
Ibunya pergi ketika ia masih kecil-tanpa penjelasan, tanpa perpisahan, tanpa alasan yang bisa ia pahami. Sejak saat itu, rumah kehilangan makna, dan dunia terasa seperti tempat yang selalu siap meninggalkannya. Trauma itu membentuknya menjadi remaja yang rusak. Di SMA, Samudra dikenal sebagai siswa bermasalah: dua kali tidak naik kelas, sering berkelahi, mencoba alkohol dan obat-obatan, dan bergaul dengan orang-orang yang sama-sama ingin melupakan hidup. Ia tidak memiliki teman, hanya rekan pelarian. Ia tidak peduli pada masa depan, karena sejak kecil ia tidak pernah percaya bahwa masa depan mau menerimanya.
Namun di balik reputasi buruknya, Samudra sebenarnya adalah siswa yang sangat cerdas. Seorang guru melihat potensi luar biasa dalam dirinya-cara berpikir yang kritis, kemampuan analisis yang tajam, dan bakat menulis yang terpendam. Guru itu mencoba menarik Samudra keluar dari kehancuran, tetapi akhirnya menyerah ketika Samudra sendiri terus menolak untuk diselamatkan.
Segalanya mulai berubah saat kelas XI semester pertama, seorang murid pindahan datang ke kelas: Delia, gadis dari Jawa yang menggunakan kursi roda. Kedatangannya membuat kelas terdiam.
Ada tatapan iba, ada bisik-bisik, ada rasa canggung.
Namun Delia memperkenalkan dirinya dengan senyum lebar dan suara penuh semangat, seolah kursi roda itu bukan tragedi, hanya bagian dari hidupnya.
Creative Commons (CC) Attribution