bulan purnamaku.

bulan purnamaku.

  • WpView
    Reads 190
  • WpVote
    Votes 26
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, May 15, 2026
"bertahan walau sakit" tapi "kita sama-sama mau sembuh" - Isha Aria.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Stahl und Seide | Boy's Love [End]
  • TIME SLIP (END)
  • 𝐋𝐨𝐯𝐞 𝐢𝐬 𝐎𝐫𝐚𝐧𝐠𝐞
  • Crushes (BL 18+) [COMPLETE]
  • SANDURI
  • ...
  • The Taste Of Love (BOYxBOY)
  • Who Are You [Yizhan]
  • Another Life Hidan [kanghidan]

Di tengah Perang Dunia yang berkecamuk, Letnan Konrad Weiss, seorang prajurit muda berusia 26 tahun, dikenal sebagai perwujudan disiplin dan ketegasan. Baginya, pertempuran adalah kewajiban, dan kelembutan adalah kemewahan yang tidak boleh dimiliki oleh seorang tentara. Namun, ketika ia terluka parah di garis depan, ia dikirim ke sebuah rumah sakit militer, tempat ia bertemu dengan seorang dokter bernama Dr. Elias Roth, seorang pria berusia 30 tahun yang memiliki tangan selembut sutra namun hati sekuat baja. Elias, yang sudah terlalu sering melihat nyawa melayang di medan perang, tidak memiliki kesabaran untuk pria-pria yang menganggap perang sebagai satu-satunya jalan hidup. Namun, ada sesuatu dalam diri Konrad yang membuatnya tak bisa berpaling-sesuatu di balik tatapan tajam dan sikap dinginnya yang membuat Elias ingin mengerti lebih dalam. Di antara luka yang belum sembuh dan pertempuran yang terus berkecamuk di luar sana, Konrad dan Elias mendapati diri mereka semakin terikat. Seiring waktu, perbedaan di antara mereka tidak lagi menjadi jurang pemisah, tetapi jembatan yang menghubungkan. Konrad, si baja yang keras dan tak tergoyahkan, perlahan belajar bahwa kelembutan bukanlah kelemahan. Sementara Elias, si sutra yang lembut namun penuh luka, menemukan bahwa terkadang, memiliki seseorang yang bisa diandalkan adalah satu-satunya hal yang membuat manusia tetap bertahan. Namun, perang tidak memberi ruang bagi cinta untuk berkembang. Ketika panggilan tugas kembali menggema dan perpisahan menjadi tak terhindarkan, mereka harus memilih-apakah mereka akan tunduk pada takdir, ataukah mereka akan melawan dunia untuk sesuatu yang lebih berharga dari kemenangan: satu sama lain.

More details
WpActionLinkContent Guidelines