WHAT WE COULD NOT LEAVE BEHIND
15 parts Ongoing Isabella Seraphine kembali ke Indonesia bukan karena ingin pulang, tapi karena keadaan memaksanya. Tiga bulan lalu ia resmi menjadi mahasiswi pindahan dari Willem de Kooning Academy setelah mengikuti program seni kolaboratif di New York. Kepindahan itu terdengar rapi di atas surat resmi kampus, tapi yang tidak tertulis adalah kelelahan yang ia bawa pulang, luka yang tak sempat ia selesaikan, dan perasaan yang belajar mati rasa. New York ia tinggalkan bersama mimpi, kebebasan, dan kehilangan, kota yang mengajarkannya bahwa harapan bisa sangat hidup sekaligus kejam.
Di Semarang, ia melanjutkan kuliah dan mencoba merapikan hidup yang sempat tercerai. Ia ikut seminar gabungan sejarah dan seni di Universitas Diponegoro, sebuah acara yang membahas bagaimana generasi muda bisa membangun masa depan tanpa menghapus ingatan. Di sana, ia bertemu Rajendra Kalingga, mahasiswa sejarah yang terbiasa hidup berdampingan dengan masa lalu. Cara Jendra berbicara tenang, penuh penerimaan, bukan pelarian. Dari percakapan ringan tentang materi seminar dan hubungan antara seni dan sejarah, tumbuh rasa nyaman yang perlahan berubah menjadi keterikatan yang tidak mereka rencanakan.
Perbedaan mereka mulai terlihat. Jendra percaya masa lalu harus dipahami dan dihormati, sementara Isabella percaya masa lalu cukup diketahui, lalu dilepaskan. New York tetap menjadi bayangan di hati Isabella, sebuah kemungkinan yang bisa ia datangi kapan saja, bukan pelarian, tapi pintu yang mungkin suatu hari ia buka kembali. Meski begitu, kehadiran mereka di satu sama lain memberi ruang bernapas, mendengarkan, dan merasakan tanpa tekanan.
Di antara sejarah dan seni, antara mengingat dan melupakan, mereka belajar mencintai dengan cara masing-masing. Hubungan mereka rapuh, penuh ketidakpastian, tapi juga tulus. Dan selalu ada kemungkinan bahwa suatu hari Isabella akan kembali ke New York, entah sebagai keberanian untuk melanjutkan hidup, atau sebagai perpisahan yang tak pernah mereka rencanakan.