Satire Killed Me Twice

Satire Killed Me Twice

  • WpView
    Reads 2,167
  • WpVote
    Votes 1,324
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Feb 7, 2026
Di usia dua puluh delapan, Clara belajar bahwa satu kalimat bisa lebih mematikan daripada niat jahat. Sebuah twit satir ditulis tanpa kebencian dipelintir, dicabut dari konteksnya, dan menjelma pengadilan publik yang menghancurkan reputasinya. Ia dihukum tanpa ruang klarifikasi, tanpa kesempatan untuk menjadi manusia yang keliru namun berniat baik. Sebelum luka itu sempat sembuh, satu-satunya orang yang mencintainya tanpa syarat meninggal dunia tanpa perpisahan, tanpa penutup. Clara tidak berniat mati. Ia hanya ingin tidur. Namun saat terbangun, ia hidup sebagai Jennatte Clairee Olivia Aurevielle, tokoh antagonis dalam novel aristokrat yang pernah ia baca: perempuan yang sejak awal ditulis untuk dibenci, difitnah, dan disingkirkan. Lebih kejam lagi, putra mahkota kerajaan yang akan menikah dengan heroine suci dan dipuja rakyat memiliki wajah dan suara kekasihnya yang telah meninggal. Ia tidak mengingat Clara. Tidak mengingat cinta mereka. Dihukum di satu dunia karena satu kalimat, dan di dunia lain karena satu nama, Jenna harus bertahan cukup lama untuk menulis ulang takdirnya dan mencari tahu apakah cinta masih bisa kembali, ketika ingatan memilih untuk lupa.
All Rights Reserved
#61
royalfamily
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Nakula
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Salah Status

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines