Katanya, rumah adalah tempat pulang paling nyaman. Tapi bagaimana jika rumah itu sendiri yang memberikan luka paling dalam?" Bagi Isya Kirana. dunia tidak lagi memiliki warna sejak kebahagiaannya dirampas oleh keadaan. Ia terbiasa berjalan sendirian, memeluk lukanya erat-erat agar tidak ada yang tahu betapa hancur hatinya. Sampai akhirnya, ia bertemu dengan seseorang yang tidak menjanjikan kesembuhan, namun menawarkan pundak untuk bersandar. Ini bukan sekadar cerita tentang jatuh cinta, tapi tentang bagaimana menemukan kembali arti 'pulang' di tengah puing-puing masa lalu yang belum usai. Karena terkadang, rumah bukan lagi berupa bangunan, melainkan seseorang yang bersedia menetap meski tahu kita sedang tidak baik-baik saja.
Más detalles