Erxerick Thorne-atau Erick-adalah kesalahan yang berjalan dengan rapi. Usianya tiga puluh, lajang, dan hidupnya tak pernah mengenal kata "normal". Di balik jas mahal dan tatapan tenang, ada bisnis kotor, kesepakatan berdarah, dan nyawa-nyawa yang runtuh demi satu tujuan: dirinya sendiri. Erick bukan sekadar licik; dia tumbuh dari kebusukan itu. Moral tak pernah mampir di hidupnya. Jika iblis ada wujudnya, Erick mungkin tak perlu sayap.
Di rumah yang sama, tumbuh Adeline Eleanor-Adel. Gadis mungil yang diadopsi keluarganya bertahun-tahun lalu, saat Erick masih bocah yang kesepian dan butuh teman bermain. Sepuluh tahun memisahkan mereka, namun waktu justru mengikat lebih erat. Adel berusia dua puluh, cantik dengan cara yang membuat orang ingin menjaga-atau memiliki. Dunia melihatnya sebagai cahaya; Erick melihatnya sebagai satu-satunya alasan bernapas.
Di kampus, Adel jatuh cinta pada Calvin. Lelaki baik, perhatian, dengan senyum yang menjanjikan ketenangan-namun tangannya sering menarik lalu melepas. Tarik ulur itu membuat Adel menangis berkali-kali, dan setiap air mata adalah peluru bagi kesabaran Erick. Bagi Erick, Calvin bukan sekadar lelaki; dia ancaman. Gangguan. Sesuatu yang harus disingkirkan.
Cinta Erick pada Adel bukan cinta yang sehat. Ia obsesif, sunyi, dan berbahaya. Ia tumbuh di lorong-lorong gelap pikirannya, sampai batas benar dan salah tak lagi berarti. Demi menjadikan Adel satu-satunya, Erick meniadakan siapa pun yang berdiri di antara mereka-bahkan orang tua yang seharusnya menjadi dinding pelindung. Sejak jatuh cinta pada Adel, aturan hanyalah cerita lama yang tak pernah ia percaya.
Ini bukan kisah cinta yang ingin diselamatkan. Ini cerita tentang kepemilikan, pengkhianatan darah, dan seorang pria yang memilih menjadi monster agar tak kehilangan satu cahaya yang ia akui sebagai miliknya.
Gumi selalu dipaksa untuk mengalah pada adik, dan mengerti keadaan kakak.
Pada suatu malam, Gumi yang biasanya mau mengalah pada adik dengan mudah, tiba-tiba tidak mau berbagi sampai adiknya menangis dan membuat Mama marah. Tidak hanya Mama, Papa juga marah akan sikap Gumi.
Setelah mendapatkan hukuman dari Papa, Gumi jatuh terlelap karena sudah lelah menangis. Namun apa yang dia dapatkan ketika terbangun? Gumi bertransmigrasi ke tubuhnya satu tahun yang lalu.
Gumi bertekad untuk tidak mengemis perhatian dari kedua orang tuanya. Gumi akan berusaha menjadi anak yang mandiri dan memutuskan untuk menghindari kedua orang tuanya.