Sudah terhitung genap enam tahun kalau Baruna Lumar dan Rakeyan Sagara mulai berpacaran diam-diam di desa mereka yang ketat akan aturan adat. Keduanya, apalagi Baruna -kerap dipanggil Runa, itu selalu punya cara agar mereka tetap bisa saling berbagi waktu mojok; mengobrol berdua tanpa hal-hal mesum, di berbagai tempat pilihannya di seluruh penjuru desa yang aman dari jangkauan warga. Dia tak pernah kehabisan ide. Hanya saja, ketika usia keduanya sudah menginjak dua puluh tiga tahun dan Rakeyan Sagara punya kondisi mapan siap berumah tangga, para kokolot desa mereka segera mendukung Saga untuk memilih pasangan hidupnya kelak yang dapat memberi keturunan sesuai adat mereka agar bisa terus menyambung tali darah persaudaraan sejak lama yang tak pernah putus. Bahkan meski dengan tidak adanya perempuan lajang berusia pantas menikah tak lantas membuat mereka berhenti untuk dapat menyegerakan Saga melamar. Salah satunya sudah digosipkan banyak warga kalau dia akan melamar Gendis lalu tinggal menunggu beberapa bulan kelulusan SMA. Hingga membuat Runa, pertama kalinya konstan pesimis dengan nasib hubungan mereka. Namun siapa sangka, persiapan lamaran itu justru tetap kukuh dikirimkan Saga ke rumah Runa. Hingga proses adat Njemput dan Wawancan Samun untuk membaca kecocokan takdir keduanya membuahkan hasil mengejutkan kalau kehidupan mereka dapat sangat langgeng dan makmur. Akan tetapi apakah pernikahan itu tetap bisa dilaksanakan jika kedepannya tak ada keturunan yang bisa diberikan sesuai kehendak adat desa mereka?
More details