11 parts Ongoing Anaya Zivanka percaya bahwa beberapa orang tidak ditakdirkan untuk tinggal lama, tapi bukan berarti kehadiran mereka tak membekas. Seperti Alzan Rafif-laki-laki yang datang dengan diam, tapi pulang membawa separuh jiwanya yang tak sempat diselamatkan.
Ia pernah mencintai dengan seluruh waktu yang dimilikinya-dan lebih. Tapi hidup tak pernah berjanji akan memberi akhir yang bahagia, bahkan pada mereka yang saling mencintai dengan tulus.
Lalu bagaimana jika cinta itu masih ada, tapi jalannya mulai kabur?
Bagaimana jika yang kembali bukan untuk tinggal, dan yang menunggu justru dipaksa pergi?
Di antara shift kerja yang melelahkan, pesan yang tak sempat dibalas, dan tumpukan luka yang tak diberi nama, Anaya belajar menerima satu hal: bahwa kehilangan tidak selalu datang dengan perpisahan. Kadang, ia menetap dalam hal-hal kecil yang tak kita sangka-tumbler yang tertinggal, lagu yang masih terputar, atau nama yang tetap muncul di notifikasi, meski hati sudah lama tak bersuara.
Ini bukan kisah tentang bertahan. Bukan pula tentang melupakan.
Tapi tentang bagaimana seseorang belajar baik-baik saja, meski tidak ada yang benar-benar kembali.