Ombak dan Kenangan

Ombak dan Kenangan

  • WpView
    Reads 1
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Apr 11, 2026
Di sebuah kota yang selalu basah oleh hujan dan kenangan, dua orang bertemu tanpa sadar bahwa masa lalu telah lebih dulu mempertemukan mereka. Seorang fotografer yang belum selesai dengan kehilangan, dan seorang perempuan yang melihat dunia melalui mata yang menyimpan rahasia hidup orang lain. Hubungan mereka tumbuh di antara kecurigaan dan ketertarikan. Ada nama yang tak pernah diucapkan, tetapi selalu hadir di setiap diam. Pantai, surat lama, dan proyek kecil tentang harapan perlahan membuka luka yang belum sembuh. Cinta terasa hangat, sekaligus salah. Ketika kebenaran akhirnya muncul, segalanya runtuh: kepercayaan, jarak, dan keberanian untuk tetap bersama. Perpisahan menjadi cara mereka bertahan hidup. Ia memilih berbicara lewat gambar, sementara ia belajar memaafkan dalam kesunyian. "Ombak dan Kenangan" adalah kisah tentang cinta yang lahir dari kehilangan, tentang menerima masa lalu yang tak bisa dihapus, dan tentang dua kehidupan yang dipertemukan bukan oleh kebetulan, melainkan oleh keberanian untuk tetap mencintai di tengah badai. Sebuah cerita yang menyisakan satu pertanyaan: mampukah cinta bertahan jika ia tumbuh dari kenangan orang lain?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Almost Married (On Going)
  • EKSKALASI
  • Nakula
  • Kembang Desa
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Dangerous Deal S1-S2 (on going)
  • NINGRUM
  • Define the Relationship

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines