
Menikah, tidak pernah ada dalam list masa depan yang Farahdiba tulis. Baginya hidup dengan finansial freedom dan menonton langsung sang bias di Korea jauh lebih jauh lebih masuk akal di tengah hidup yang penuh beban. Namun, musim semi yang selalu didambakan tak kunjung datang. Ketika tanggung jawab sebagai anak perempuan pertama kembali menghimpit-adik membutuhkan biaya untuk lanjut kuliah profesi, orang tua yang terjerat pinjaman online-kabar itu menghantamnya tanpa aba-aba. Sang bias mengakhiri hidupnya di apartemen sendiri. Di titik itu, Farahdiba mulai mempertanyakan kembali soal tujuan hidupnya. Pencarian itu membawanya pada sebuah kelas hijrah-kelas yang menuntut setiap peserta datang berpasangan. Nadif, rekan kerja yang sama-sama enggan berharap, menjadi satu-satunya orang yang bisa ia ajak. Karena mungkin, kebahagiaan bukan tentang terbebas dari beban-melainkan tentang menemukan makna, tepat di tengahnya.All Rights Reserved
1 part