TAKDIR (ON GOING) [revisi]

TAKDIR (ON GOING) [revisi]

  • WpView
    Lecturas 7,200
  • WpVote
    Votos 772
  • WpPart
    Partes 22
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación dom, abr 26, 2026
WpInfo
Ficción
Romance
Tian tidak pernah percaya pada takdir. ​Sebagai CEO muda Lei Group yang berdarah dingin dan tak tersentuh, ia terbiasa mengendalikan segalanya dengan logika absolut. Hidupnya adalah sebuah mahakarya yang rapi, terstruktur, dan tanpa celah. Baginya, emosi adalah variabel tidak rasional yang hanya akan merusak strategi bisnisnya ​Sampai Ziyu menyusup masuk ke dalam dunianya. ​Ziyu adalah perwujudan dari semua hal yang Tian hindari. Pemuda itu cerewet, ceria, menggemaskan tanpa sadar, dan memiliki pesona yang terlalu berbahaya untuk sekadar dianggap "biasa". Ia seperti matahari kecil yang berisik-datang dan langsung mengacaukan ritme hidup Tian yang kaku, mengikis dinding esnya, hingga memaksa sang CEO merasakan sebuah debaran asing yang belum pernah ia beri nama. ​Tian membenci kebisingan. Namun anehnya, keheningan mewah yang dulu ia agungkan, kini mendadak terasa hampa setiap kali suara Ziyu tidak ada di sana. ​Di antara sekat profesionalisme yang mulai mengabur, tatapan mata yang bertahan terlalu lama, dan proteksi kecil yang tumbuh secara ugal-ugalan... apakah semua ini hanya kebetulan korporat? Ataukah sejak awal, semesta memang sudah mengunci nama mereka dalam satu garis lurus yang sama? ​Ketika batas antara atasan dan bawahan mulai runtuh, Tian dipaksa menghadapi satu kenyataan pahit: Orang yang paling peka adalah orang yang paling berbahaya. Karena dia bisa melihat celah terkecil yang selama ini kamu sembunyikan dari dunia. ​Sebab terkadang, takdir tidak datang dengan tanda-tanda megah. Ia datang dalam bentuk seseorang yang perlahan... menjadi tempatmu untuk pulang. ​"Tugasmu adalah menjadi sekretaris saya. Bukan menentukan siapa yang pantas berada di sisi saya. Karena siapa yang berada di samping saya, tidak ditentukan oleh status... melainkan perasaan." - Tian.
Todos los derechos reservados
#84
revengedlove
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Kembang Desa
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Nakula
  • Salah Status [END]
  • Prahara Lamaran [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido