22 parts Ongoing Est Shupa Sangaworawong adalah sisa-sisa sebuah elegi. Di usianya yang ke-32, ia adalah seorang martir bagi seninya sendiri; seorang pria yang percaya bahwa keindahan hanya bisa lahir dari rahim penderitaan. Baginya, setiap tusukan jarum di ujung jemarinya adalah sebuah doa, dan setiap tetes darah yang menodai kain sutranya adalah harga yang pantas untuk sebuah mahakarya yang bernyawa.
Namun, doa-doa pedih itu terdengar hingga ke puncak menara kaca di Sukhumvit, tempat William Jakrapatr Kaewpanpong bertahta.
William adalah predator dengan wajah malaikat dan tangan sedingin logam mesin tenun. Ia tidak menginginkan desain Est; ia menginginkan rasa sakit Est. Dengan kekuasaan yang absolut dan usia yang lebih muda namun jauh lebih bengis, William datang bukan untuk menyelamatkan Est dari kemiskinan, melainkan untuk mengurungnya dalam sebuah sangkar emas yang kedap suara.
Di rumah itu, William adalah pemilik napas dan pengatur luka. Ia mengajari Est bahwa pengabdian yang paling murni bukanlah tentang cinta, melainkan tentang penyerahan diri yang total di bawah ujung jarum yang dikurasi.
Ini adalah tarian antara dua jiwa yang rusak: seorang pria yang merindukan rantai, dan seorang pria yang terobsesi menjadi sipirnya. Sebuah hubungan yang terjalin erat dalam filosofi Sangara-bahwa cinta dan siksaan hanyalah dua helai benang yang dipilin menjadi satu kain kafan yang indah.
"Jangan memohon ampun padaku, Est. Karena di dunia yang kuciptakan untukmu, rasa sakit adalah satu-satunya cara agar kau tetap merasa hidup."