Hidup Alena yang awalnya biasa-biasa saja mulai berubah sejak sebuah pesan masuk dari akun tanpa nama. Tidak ada foto profil, tidak ada bio, hanya satu kalimat sederhana yang entah bagaimana tepat mengenai perasaannya. Awalnya Alena mengira itu hanya salah kirim. Namun, pesan itu terus datang, pelan, konsisten, dan selalu di saat ia paling membutuhkannya.
Akun misterius itu seolah tahu kapan Alena sedang lelah, kecewa, atau ingin menyerah. Kata-katanya tidak berlebihan, tapi hangat. Tidak menghakimi, hanya hadir. Tanpa sadar, Alena mulai menunggu pesan-pesan itu setiap hari. Ia tertawa, bercerita, bahkan menangis pada seseorang yang tidak pernah ia lihat wajahnya. Seorang teman tanpa nama, tanpa identitas
-an anonymous friend.
Namun, kedekatan itu perlahan berubah menjadi tanda tanya. Beberapa pesan menyebutkan detail kecil tentang hidup Alena : kebiasaan, kejadian di sekolah, bahkan kenangan yang tidak pernah ia unggah di mana pun. Rasa nyaman mulai bercampur dengan curiga. Bagaimana mungkin seseorang yang "asing" tahu begitu banyak?
Di dunia nyata, Alena juga mulai memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Teman lama yang tiba-tiba menjadi lebih perhatian, sosok pendiam yang sering sekali muncul di tempat yang sama, hingga orang yang selama ini ia anggap biasa-biasa saja. Setiap orang terasa mencurigakan, setiap senyum
mereka menyimpan kemungkinan.
Semakin Alena ingin mengetahui kebenaran, semakin sulit ia membedakan mana yang tulus dan mana yang bersembunyi di balik kebohongan. Ia dihadapkan pada pilihan sulit : mengungkap identitas anonymous friend itu dan menghadapi risiko kehilangan, atau tetap bertahan dalam persahabatan tanpa wajah yang telah menjadi tempat paling aman dalam hidupnya.
Karena terkadang, orang yang paling mengenal kita... adalah orang yang tidak pernah kita lihat.
"Stop ikutin aku!!"
Langkah yang semula pelan menjadi tergesa saat Hera melihat Laki-laki di belakangnya yang terus mengikutinya.
"No, Love. I want to make sure you're okay"
"Kita udah putus Je! jangan ganggu aku!"
"I never agreed to it"
Dia Helera Varadisa gadis pintar yang banyak di kenal di sekolahnya dengan ciri khasnya pita biru yang selalu tampil cantik di rambutnya.
Kehidupannya yang awalnya hanya seputar belajar, membaca, dan menulis berubah lebih menyenangkan kala ia bertemu dengan Jerald Van Derico.
Laki-laki yang kehidupannya bertolak belakang dengan Helera, Jerald bukan anak yang terkenal karena kepintarannya ia justru dikenal karena sering membuat keributan dengan teman-temannya.
Meski begitu Hera senang menjalin hubungan dengan Jerald, meski harus dengan keadaan backstreet.
Awalnya semula Hera yakin kisah masa abu-abu nya memang lebih manis setelah mengenal Jerald, sebelum sesuatu terjadi menghancurkan keyakinan Hera.
"Je kamu beneran belum punya pacar kan?"
Jerald yang di beri pertanyaan itu dengan tegas menggeleng sebagai jawaban.
Setelah melihat dengan jelas interaksi Jerald dengan gadis itu Hera menggelengkan kepalanya pelan.
Hera segera pergi dari tempat itu, ia tak ingin membiarkan hatinya lebih lama lagi merasa sakit.