Hidup Alena yang awalnya biasa-biasa saja mulai berubah sejak sebuah pesan masuk dari akun tanpa nama. Tidak ada foto profil, tidak ada bio, hanya satu kalimat sederhana yang entah bagaimana tepat mengenai perasaannya. Awalnya Alena mengira itu hanya salah kirim. Namun, pesan itu terus datang, pelan, konsisten, dan selalu di saat ia paling membutuhkannya.
Akun misterius itu seolah tahu kapan Alena sedang lelah, kecewa, atau ingin menyerah. Kata-katanya tidak berlebihan, tapi hangat. Tidak menghakimi, hanya hadir. Tanpa sadar, Alena mulai menunggu pesan-pesan itu setiap hari. Ia tertawa, bercerita, bahkan menangis pada seseorang yang tidak pernah ia lihat wajahnya. Seorang teman tanpa nama, tanpa identitas
-an anonymous friend.
Namun, kedekatan itu perlahan berubah menjadi tanda tanya. Beberapa pesan menyebutkan detail kecil tentang hidup Alena : kebiasaan, kejadian di sekolah, bahkan kenangan yang tidak pernah ia unggah di mana pun. Rasa nyaman mulai bercampur dengan curiga. Bagaimana mungkin seseorang yang "asing" tahu begitu banyak?
Di dunia nyata, Alena juga mulai memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Teman lama yang tiba-tiba menjadi lebih perhatian, sosok pendiam yang sering sekali muncul di tempat yang sama, hingga orang yang selama ini ia anggap biasa-biasa saja. Setiap orang terasa mencurigakan, setiap senyum
mereka menyimpan kemungkinan.
Semakin Alena ingin mengetahui kebenaran, semakin sulit ia membedakan mana yang tulus dan mana yang bersembunyi di balik kebohongan. Ia dihadapkan pada pilihan sulit : mengungkap identitas anonymous friend itu dan menghadapi risiko kehilangan, atau tetap bertahan dalam persahabatan tanpa wajah yang telah menjadi tempat paling aman dalam hidupnya.
Karena terkadang, orang yang paling mengenal kita... adalah orang yang tidak pernah kita lihat.
All Rights Reserved