Menerima Luka [Dewtee]

Menerima Luka [Dewtee]

  • WpView
    LECTURES 925
  • WpVote
    Votes 147
  • WpPart
    Chapitres 10
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication dim., févr. 8, 2026
"Lo... jangan duduk di bangku ini kalau nggak kuat." Langkah Taran terhenti. Ia menoleh, menatap Daxton dengan tenang. "Nggak kuat kenapa?" tanyanya lembut. "Sebangku sama gue nggak enak," jawab Daxton datar. Taran tersenyum tipis, seolah tak gentar. "Nggak apa-apa. Aku orangnya tahan banting." Dua orang dengan luka masing-masing, sama-sama pandai menyembunyikan sakitnya sendiri. Tak ada yang menyangka, satu bangku di kelas justru jadi awal penyembuhan bagi mereka. ⚠️⚠️ - BOYLOVE AREA - Dilarang keras untuk plagiarisme! - Setelah membaca berikan Vote dan komen! - Yang gak suka Silahkan Di skip !!!
Tous Droits Réservés
#162
dewtee
WpChevronRight
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Nala dan Mas Juragan
  • Satu Tahun Saja
  • Nakula
  • I'm the male lead's wife?
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • WEDDING VOWS
  • Kembang Desa
  • Almost Married (On Going)
  • Beautiful Trouble
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain

Cerita ini ada di paijo juga. --- Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu