Kursi di Baris Paling Depan
Menjadi yang pertama lahir bukan sekadar soal urutan, melainkan peran yang sering kali harus dijalani tanpa pilihan.
Sejak kecil, sulung diajarkan untuk mengalah, memahami sebelum dipahami, dan tetap terlihat kuat meski hatinya lelah. Ia dituntut menjadi contoh, tempat bersandar, sekaligus penopang harapan keluarga.
Namun, siapa yang pernah bertanya bagaimana rasanya menjadi yang pertama, tetapi justru sering merasa sendirian? Bagaimana rasanya memikul begitu banyak ekspektasi, sementara keinginan sendiri perlahan menghilang?
Di balik gelar anak pertama, tersimpan mimpi yang tertunda, air mata yang tak sempat jatuh, dan suara hati yang perlahan kehilangan tempatnya.
Kursi di Baris Paling Depan adalah kisah tentang mereka yang selalu diminta kuat, tetapi diam-diam juga ingin dipeluk. Tentang perjalanan menerima diri, berdamai dengan luka, dan menemukan bahwa menjadi sandaran bagi orang lain tidak berarti harus kehilangan diri sendiri.