Aku merasuki roh jahat di dalam sebuah game.
Awalnya, aku pikir aku harus membantu si pembunuh membunuh semua penyintas agar bisa keluar dari sini.
"Baiklah. Hehe, mati kau! Manusia jelek!"
"Kyahaha! Kau mau memukulku dengan itu? Ayo-pukul aku! Pukul!"
Setelah melalui akting kekanak-kanakan seperti itu, dengan nyaris tidak menggunakan kemampuan roh jahat selain merasuki manusia dan menyerahkan para penyintas ke hadapan si pembunuh, Basileon...
"...Aku sudah bilang jangan merasuki manusia laki-laki."
Bahkan sebagai seorang pembunuh, dia masih pilih-pilih.
---
"Evie. Jangan pergi."
Namun entah kenapa, obsesinya tampak semakin kuat.
"Aku... ingin merasakan kehangatanmu."
"Basileon, aku ini roh jahat. Kita tidak akan pernah bisa saling menyentuh."
"...Itu tidak mungkin."
"..."
"Itu terlalu kejam."
Tanpa kusadari, mata Basileon mulai berkilau oleh air mata.
Kami telah berbagi begitu banyak percakapan dan saling bertukar pandang, namun tetap saja aku dan dia tidak bisa merasakan kehangatan satu sama lain.
Ya. Kami adalah manusia dan roh jahat yang tidak bisa saling bersentuhan.
Atau setidaknya, begitulah yang kupikirkan...
"Peluk aku."
"...Aku tidak bisa memelukmu. Tapi, kalau yang seperti ini tidak apa-apa."
Dia memelukku-atau lebih tepatnya, memeluk udara kosong.
Aneh rasanya. Jelas kami tidak bisa menyentuh satu sama lain, namun tetap saja, aku dan dia sama-sama merasakan kehangatan satu sama lain.
[NOVEL TERJEMAHAN]
All Rights Reserved