Vadiem Suvarnapati tumbuh dalam keluarga kaya lama yang mapan, pemilik jaringan hotel Suvarnapati Group yang namanya dikenal tanpa perlu disebut keras-keras. Dia bisa memilih hidup aman dan rapi, tetapi justru berjalan ke arah sebaliknya: menjadi pengacara di LBH, berhadapan dengan berkas kusut, klien miskin, dan negara yang sering kali tuli. Di dunia yang serba transaksional, Vadiem bersikeras percaya bahwa hukum masih bisa menjadi tempat berlindung, meski harus dibayar dengan karier, reputasi, dan kesepian.
Jesselyn hidup dengan cara yang jauh lebih kasar. Bergelut dalam dosa bersama pejabat, terbiasa masuk ke ruang-ruang mahal yang penuh rahasia, melayani pejabat yang siangnya bicara moral dan malamnya menanggalkan nurani. Dari posisi yang selalu direndahkan, Jesselyn justru melihat banyak hal yang orang "terhormat" pura-pura tidak tahu: suap, pengaturan kasus, dan kebusukan yang disembunyikan di balik jas mahal. Dia bertahan bukan karena ingin, tapi karena harus. Demi keluarga, demi hidup yang tak memberinya pilihan lain.
Pertemuan mereka bukan kisah cinta yang bersih dan mudah. Hubungan itu tumbuh pelan, di antara rasa bersalah, iman, dan luka yang tak bisa disembuhkan dengan janji.
Gea tidak pernah membayangkan hidupnya akan terjerat dalam pernikahan tanpa cinta-dengan pria yang dikenal semua orang sebagai "bos besar" yang dingin dan menakutkan. Aldric, pengusaha muda kaya raya, menikahinya bukan karena cinta... melainkan karena sebuah kesepakatan.
Bagi Gea, pernikahan ini hanyalah cara menyelamatkan keluarga dari jerat utang. Namun semakin lama hidup di bawah atap Aldric, semakin ia sadar... pria itu tidak sesederhana "bangkotan kejam" seperti yang orang kira. Ada luka masa lalu, ada sisi lembut yang jarang diperlihatkan, dan ada perasaan yang perlahan tumbuh-meski dibungkus ego dan amarah.
Ketika gosip kehamilan Gea menyebar di kantor, kehidupan keduanya berubah drastis. Rahasia yang selama ini disembunyikan mulai terkuak, membawa Gea pada pilihan sulit: bertahan demi cinta yang belum pasti, atau pergi demi dirinya sendiri.
Cinta, kekuasaan, dan harga diri bertarung dalam satu cerita. Di antara tamparan realita dan lembutnya pelukan, siapa yang akan Gea percayai-hatinya, atau logika?