Najib Ambara Dirga atau biasa di panggil na oleh kakak kakaknya dan orang terdekat, pemuda manis pengagum senja dan sunset. Anak yang ceria, aktif, pemilik gingsul dan mata sipit saat senyum, menambah kemanisan nya.
Kata najib mereka itu indah dan tenang tapi tak semua yang indah akan selamanya indah dan begitu juga tenang.
Sama pasalnya seperti kehidupan, yang kadang ada senang dan sedih, senja dan sunset memang indah tapi dibalik itu mereka punya tugasnya untuk membawa malam, yang artinya lebih sunyi dan sepi.
Najib sendiri menyukai keduanya karna sang mendiang ibunda yang juga menyukainya.
Ia masih teringat jelas senyum manis bundanya, tawa sore itu dan segala kenangan yang tersimpan rapi di pikiran juga hatinya.
Tapi ia juga sadar bahwa hidup harus berlanjut selagi tuhan masih memberi nya nafas, ia termasuk anak yang beruntung, meski sang bunda juga ayahnya telah tiada tapi dia masih mempunyai tiga kakak, sepupu juga sahabat yang selalu mencintainya.
Meski terkadang mereka ada ributnya tapi itu wajar dalam persaudaraan dan pertemanan, lagipula mereka ribut juga tak berlangsung lama.
Tapi kita juga tak bisa mengira kedepannya akan seperti apa, kita bukan penulis skenario kehidupan, kita cuma mengikuti alur yang sudah tertulis, dan mungkin tak akan ada yang percaya, najib si pemiliki senyum manis itu mempunyai sesuatu hal yang dia sendiri tak pernah bayangkan dalam hidupnya.
Raka, laki-laki desa, hidup sederhana, pelarian utamanya cuma membaca novel. Dunia nyata terasa sempit, dunia fiksi terasa lebih masuk akal.
Suatu malam, ia membaca sebuah novel terkenal. Plotnya menurut dia dangkal, karakternya bodoh, dan konflik terasa dipaksakan. Ia memaki novel itu dengan emosi yang tidak proporsional, seolah mengutuk takdir karakter-karakternya.
Karma datang cepat dan absurd.
Raka mati.
Ia terbangun sebagai Leonard Aurelian Vireaux, putra keenam keluarga konglomerat paling berpengaruh di dunia.
_______
Karya gabut..
Kalo nggak suka sama cerita ataupun alurnya, pergi saja kau jauh jauh...
𝑻𝒉𝒂𝒏𝒌𝒔(*ˊᵕˋ*)੭ ੈ❤︎