Di tanah suci, di bawah langit Mekkah yang menjadi saksi doa-doa paling jujur, dua insan penghafal Al-Qur'an dipertemukan tanpa rencana. Seorang wanita muda berusia 19 tahun dengan hati yang masih rapuh dan seorang pria 26 tahun yang lebih matang bertemu dalam rombongan umroh yang sama. Takdir memilih keheningan sebagai bahasa mereka-tatapan singkat di antara thawaf dan doa, tanpa janji, tanpa niat mendekat, hanya rasa yang diam-diam tumbuh di tempat paling suci. Komunikasi pun terjalin dengan batas adab yang dijaga ketat, hingga sang pria menyampaikan keseriusannya. Namun perbedaan usia dan kematangan membuat makna itu tak sepenuhnya dipahami oleh sang wanita. Hubungan mereka pun menggantung, lalu berakhir dalam diam, hingga kabar perjodohan sang pria datang tanpa bisa dicegah, meninggalkan luka yang tak terlihat namun dalam.
Hari-hari wanita muda itu dipenuhi doa yang tak tahu lagi harus meminta apa. Ayat-ayat yang ia hafalkan terasa berat, kenangan bersembunyi di sela huruf hijaiyah, dan hatinya belajar pahit bahwa niat baik pun bisa berakhir menyakitkan jika waktu tak berpihak. Ia ingin ikhlas, namun belum selesai berduka; ingin membuka hati, namun trauma membuatnya menutup pintu rapat-rapat. Hingga takdir kembali mempertemukannya dengan seorang pemuda seusianya-teman lama yang hadir sederhana, tanpa janji besar, hanya kesabaran dan perhatian nyata. Di persimpangan itu, ia bergulat dengan hatinya sendiri: antara menunggu yang tak lagi menoleh atau membuka pintu bagi yang setia menunggu. Dalam sujud panjangnya, ia bertanya, apakah cinta harus selalu melukai, atau Allah hanya sedang mengajarkannya bahwa takdir tak pernah tertukar-hanya datang di waktu yang berbeda.
happy Reading, See you next time !!!
Cerita ini tidak bermaksud menormalisasi plagiarisme. Kisah ini terinspirasi dari pengalaman nyata penulis, dengan beberapa tambahan untuk memperkuat emosi dan alur cerita, agar pembaca dapat ikut merasakan perjalanan batin penulis.
Todos los derechos reservados