" Di rumah ini, aku hanyalah hantu yang dipaksa nyata."
Bagi Putra Bungsu Abraham, dicintai adalah sebuah kemewahan yang tidak mampu ia beli. Sepuluh tahun ia hidup sebagai "cadangan" yang tak diinginkan, dibayang-bayangi oleh kesempurnaan kakaknya, Novalyo Abraham.
" Canxo ngga maau pergiii!!! Canxo mau di siniii!! "
Chiara, ibunya, memandangnya dengan tatapan yang tidak ramah-selalu saja begitu. Raham, ayahnya, menatapnya dengan rasa yang sulit dia artikan, benci? Marah? Atau bahkan dendam? Semuanya ada di sana.
Sepuluh tahun berlalu mengantar Riontara Canxo Abraham menginjak umur ke tujuh belas tahun. Dia kembali ke rumah yang sepuluh tahun lalu mengasingkannya. Dia datang bukan karna ada acara mewah, pesta besar atau hari spesial keluarga mereka, melainkan, kabar kematian Novalyo Abraham. Sosok pelindung Canxo sedari kecil di rumah ini.
" Lo janji mau balapan sama gwe kalo gwe udah balik, tapi sekarang? Gwe ke sini lo malah pergi, curang lo, Bang "
Dia harus bisa melewati berbagai ancaman, rintangan, dan tantangan yang selalu hadir dalam hari harinya semenjak dia menapakkan kaki di kawasan ini. Tidak hanya tentang rencana pembunuhan Noval saja yang membuatnya hancur, tapi fakta yang di sembunyikan kedua 'orang tuanya' yang membuat dirinya hancur sehancur hancurnya.
Dia ternyata orang asing di antara mereka. Keadaan semakin runyam ketika rival ayahnya hendak melayangkan serangan terakhir ketika satu lembar hasil dari laboratorium berada di tangan Raham. Mereka seolah dipermainkan oleh semesta, sempat membuat sang rival tertawa dengan alur kisah mereka yang cukup konyol menurutnya.
Sesuatu terjadi pada Canxo, membuat dia harus memilih, antara hidup, atau tidak sama sekali. Setelah semua perlakuan Raham dan Chiara, apa dia akan tetap memilih ada? Atau dia akan merelakan hidupnya karna sudah lelah dengan semua rencana semesta yang membuatnya hancur?
All Rights Reserved