Ankava or Argara?

Ankava or Argara?

  • WpView
    Reads 4,100
  • WpVote
    Votes 582
  • WpPart
    Parts 30
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 16 hours ago
⚠️ FOLLOW AKUN INI SEBELUM MEMBACA ⚠️ Alysha Queenara, gadis yang tumbuh dengan luka yang belum sembuh, kepergian mendadak sahabat masa kecilnya-Ankava Danadiaksa-yang juga diam-diam menjadi cinta pertamanya. Bertahun-tahun ia menunggu kabar, namun yang datang hanyalah sunyi dan kenangan. Di tengah kehampaan, muncullah Argara Maheswara, lelaki yang hadir membawa kehangatan dan harapan baru. Tapi saat Alysha mulai membuka hati, masa lalu kembali mengetuk, Ankava kembali, membawa rahasia kelam yang selama ini disembunyikan, tentang konflik keluarga, pengkhianatan, dan alasan kepergiannya yang bukan sekadar kebetulan. Kini Alysha berdiri di persimpangan antara memilih lelaki yang pernah menjanjikan dunia, atau lelaki yang menemani saat dunia terasa runtuh. Namun cinta bukan hanya soal perasaan. Ada luka yang harus disembuhkan, dan masa lalu yang harus dihadapi. Ankava or Argara? adalah kisah tentang cinta pertama, kehilangan, dan keberanian untuk memilih, bahkan ketika pilihan itu terasa paling menyakitkan. "Antara yang kembali dan yang bertahan, hatiku harus memilih, meski keduanya luka." __________________Alysha Queenara. 🚫Dilarang keras melakukan segala bentuk plagiarisme terhadap karya ini🚫 #1 Alysha [29/5/2026] #1 Argara [29/5/2026] #3 Penantian [25/6/2026] Start: 18 Februari 2026 Finish: ?
All Rights Reserved
#14
penantian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • Nala dan Mas Juragan
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • DOMINEX | The Crime Lock

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines