About 7 days

About 7 days

  • WpView
    Reads 398
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Mar 17, 2026
Bagaimana jika 7 saudara ini memiliki kekurangan dan latar belakang yang berbeda-beda? Itulah yang dialami oleh sevenlife. "Eh, Bang, lo pulang jam berapa sih kemarin?" tanya Dino sambil tetap tertawa, seolah pertanyaan itu cuma bagian dari obrolan remeh. "Lupa," jawab Mahesa ringan. "Jam berapa pun sama aja." Naren menoleh. "Lo akhir-akhir ini sering bilang gitu." Mahesa mengedikkan bahu. "Kenapa? Sekarang gue harus absen?" Bastian terkekeh cepat, mencoba menutup celah. "Santai, bro. Kita bukan emak-emak RT." Tawa tidak langsung hilang. Hanya mengecil. Seperti suara yang diturunkan volumenya tanpa ada yang benar-benar sadar. Di sudut meja, Jidan menunduk, jarinya mengepal sebentar sebelum kembali rileks. Ia tidak berkata apa-apa, tapi dadanya terasa sesak oleh kalimat-kalimat yang belum sempat lahir. Guyss kalau membaca bantu votment yaa biar author bisa semangat terus update nya😍
All Rights Reserved
#598
sadend
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Tsundere Maniak Susu
  • The Time
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • I'm Not Just a Figuran
  • Transmigrasi Ziora
  • Blueprint Pelarian Villain
  • GHAIKA (REVISI)
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • GRAVARENZO

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines