Ia tidak pernah menginginkan kebencian ini. Dendam itu tumbuh bukan karena egonya terluka, melainkan karena seseorang yang ia sayangi telah direnggut dengan cara yang tak adil. Sejak saat itu, hatinya berubah-bukan menjadi kejam, melainkan menjadi keras. Ia menolak melupakan, karena melupakan berarti mengkhianati kenangan orang yang ia lindungi dengan seluruh hatinya.
Di balik ketenangannya, tersimpan amarah yang ia simpan rapi. Setiap senyum tipisnya adalah topeng, setiap tatapan dinginnya menyiratkan janji yang tak pernah ia ucapkan dengan suara. Ia menuntut balas bukan untuk memuaskan dirinya sendiri, tetapi untuk memastikan bahwa rasa sakit yang dialami orang yang ia cintai tidak berlalu begitu saja, seolah tak pernah berarti.
Ia melangkah dengan keyakinan yang sunyi. Air mata telah ia habiskan di malam-malam yang sepi, saat tak ada siapa pun yang melihat. Kini yang tersisa hanyalah tekad-tekad untuk berdiri di antara masa lalu dan keadilan yang tak pernah datang. Jika dunia memilih diam, maka ia yang akan berbicara.
Balas dendam baginya bukan tentang kehancuran, melainkan tentang pembuktian bahwa cinta yang ia miliki tidak lemah. Bahwa kehilangan tidak membuatnya menyerah. Dan bahwa untuk orang yang ia sayangi, ia rela menjadi kuat, bahkan jika itu berarti berjalan sendirian di jalan yang gelap.
All Rights Reserved