Gadis itu tumbuh di antara kebun mawar merah yang indah namun penuh duri, menyaksikan bagaimana orang tuanya menyamarkan kekerasan dalam nama cinta. Pengalaman masa kecil itu menanamkan keyakinan keliru bahwa mencintai berarti menyakiti, bahwa keindahan selalu datang bersama luka.
Kini dewasa, dia menemukan dirinya terpecah menjadi dua. Gadis lembut berbalut putih dan bayangan gelap yang ingin menghancurkan. Setiap kali seseorang mendekati dengan tulus, ada bisikan dalam dirinya yang berbisik untuk merusak sebelum dirusak, untuk pergi sebelum ditinggalkan.
Ketika dia akhirnya jatuh cinta pada lelaki yang benar-benar mencintainya, alih-alih memeluk kebahagiaan, dia justru perlahan menghancurkan hubungan itu dari dalam.
Hanya setelah kehilangan segalanya, dia menyadari bahwa monster sejati bukanlah dirinya, melainkan siklus trauma yang diwariskan generasi ke generasi. Dan penyembuhan dimulai ketika dia memilih untuk tidak mewariskan kehancuran yang sama pada masa depan.
All Rights Reserved