Ruang Sunyi

Ruang Sunyi

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 5, 2026
WpInfo
Fiction
Romance
Ada luka yang tidak minta dikenali. Ia tidak datang dengan rasa sakit yang jelas, tidak meninggalkan bekas yang bisa sentuh. Ia tinggal diam, menunggu, bersembunyi di antara tarikan napas yang pendek dan bahu yang lupa cara rileks. Kiara belajar mencintai sunyi dan dirinya sendiri - karena sunyi tidak pernah menuntut apa pun darinya. Di sana ia bisa menyusun hidup dengan rapi, menata hari seperti rak buku yang tidak boleh berantakan. Ia berjalan lurus, tidak banyak bereaksi dan menjaga jarak - ia menyebutnya kendali. Bagi Kiara itu adalah kewaspadaan bukan ketakutan. Lalu seseorang hadir kembali, tidak membawa janji, tidak memaksa masuk, dia menunggu disana dalam batas aman. Dia Raka Pradipta, datang seperti jeda, seperti ruang di antara dua kalimat yang akhirnya memberi arti. Dan bagi Kiara, raka jauh lebih menggetarkan daripada kehadiran yang bising. Sebab rasa aman dan nyaman selalu menuntut harga. Kiara hanya ingin satu hal, namun terasa mustahil. Bernapas - tanpa takut kehilangan dirinya sendiri.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Kembang Desa
  • Prahara Lamaran [END]
  • Nakula
  • Stand by Me (END + MASIH BERANTAKAN, INI TULISAN PERTAMA GUE WOI MAKANYA BRNTKN)
  • Salah Status [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines