Tidak semua orang kalah karena tidak dicintai. Sebagian kalah karena terlalu lama mengalah. Ling tahu perasaan itu datang jauh sebelum ia siap. Ia menyukainya dalam diam, dalam jarak aman, dalam waktu yang tidak pernah ia akui sebagai miliknya. Bukan karena ia pengecut, tapi karena ada hal-hal yang lebih ia jaga daripada hatinya sendiri. Sahabatnya. Ia selalu percaya, mencintai tidak harus memiliki. Cukup melihat orang yang ia sayangi bahagia, itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya, itulah yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri. Sampai suatu hari, ia menyadari satu hal sederhana bahwa mengalah tidak selalu berarti mulia dan diam tidak selalu berarti kuat. Kadang, itu hanya cara paling pelan untuk terluka. Dan ketika ia akhirnya berani bertanya pada dirinya sendiri apakah ia pernah benar-benar punya kesempatan jawabannya sudah terlambat untuk diubah.
Подробнее