RIUH&TEDUH

RIUH&TEDUH

  • WpView
    Reads 38
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureComplete Fri, Feb 6, 2026
Naya adalah gadis kota yang datang dengan tawa keras, langkah ceroboh, dan hidup yang selalu berisik. Kepindahannya ke sebuah desa kecil terasa seperti hukuman bagi nya terlalu sepi, terlalu lambat, terlalu teduh untuknya. Hingga ia bertemu seorang lelaki Jawa yang kalem, lembut, dan jarang bicara. Tatapannya hangat, sikapnya sederhana, tapi kehadirannya mampu menenangkan hal-hal yang tak pernah bisa naya kendalikan dalam dirinya. Di antara sawah, senja, dan obrolan kecil yang canggung, dua dunia yang bertolak belakang perlahan saling menemukan. Naya belajar tentang diam, Raka belajar tentang tawa. Karena kadang, cinta tidak datang dengan gegap gempita,ia tumbuh pelan, seperti desa yang mengajarkan hati cara pulang.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • The Imperfect Señorita
  • NINGRUM
  • Hot girl
  • SECOND TASTE
  • R É G A L I S [REVISI]
  • Kembang Desa
  • Kesayangan Mas Juragan!
  • Almost Married (END)
  • Where They All Look At

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines