16 bab Bersambung Dahulu, dunia William runtuh ketika Est-satu-satunya alasan ia merasa aman-menghilang tanpa jejak. Kepergian itu meninggalkan luka menganga dan kebencian mendalam yang dipicu oleh kesalahpahaman.
William tumbuh dalam amarah, membentengi dirinya dengan sikap dingin untuk melawan rasa takut yang pernah membuatnya gemetar seorang diri.
Namun, saat wajah Est kembali muncul di bawah sorotan lampu media sebagai General Manager hotelnya, dinding pertahanan William runtuh seketika. Ia tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak bertindak.
Di kepalanya hanya ada satu pertanyaan yang menuntut jawaban: Mengapa kau mengkhianatiku? Mengapa kau membiarkanku ketakutan sendirian?
William kembali hadir di hidup Est bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai sosok yang penuh dendam.
Ia melampiaskan kemarahannya melalui serangkaian tindakan yang tidak pantas, bahkan menjerumus ke arah vulgar demi memuaskan rasa sakit hatinya. Ia ingin Est merasakan kehancuran yang sama.
Hingga akhirnya, sebuah kebenaran pahit terungkap. William menyadari bahwa kebenciannya selama ini hanyalah sebuah kesalahpahaman besar. Est tidak pernah mengkhianatinya; justru Est adalah korban dari situasi yang tak bisa ia jelaskan.
Kini, William jatuh dalam jurang penyesalan yang jauh lebih dalam daripada rasa bencinya dulu. Ia merasa hancur dan muak pada dirinya sendiri atas segala siksaan yang telah ia timpakan kepada Est.
Di tengah puing-puing hubungan yang telah ia hancurkan sendiri, mampukah William meluluhkan kembali hati Est yang telah ia sakiti begitu hebat? Ataukah maaf hanyalah sebuah kemewahan yang takkan pernah lagi ia dapatkan?