Gravitasi Waktu

Gravitasi Waktu

  • WpView
    Reads 77
  • WpVote
    Votes 16
  • WpPart
    Parts 14
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published about 21 hours ago
Rea tertarik jauh gravitasi menuju waktu lain dari dirinya sendiri. Ke masa yang ia yakini mampu membuat hidup terasa lebih ramai, lebih ringan, dan akhirnya... lebih layak dijalani. Namun waktu tak pernah memberi kesempatan tanpa harga. Sang Penjaga Waktu mencatat setiap pelanggaran, dan jika Rea terlalu jauh bermain dengan masa lalu, ia harus membayar. Dan percayalah- bayaran itu selalu sepadan dengan apa yang ia curi.
All Rights Reserved
#180
masalalu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Clause 27
  • Fiance in shadow
  • Sin In The Sand
  • RUIN : The Bride of Dravos
  • Letters from the Shore
  • Ixora in Their Relationship
  • 𝙋𝙧𝙚𝙩𝙩𝙮 𝙎𝙚𝙡𝙚𝙣𝙖
  • 1.4 | baby
  • DESPACITO
  • JAGASWARA
Clause 27

Selena Desirae Nararya Atmaja tidak benar-benar berniat kabur dari rumah-setidaknya bukan pada awalnya. Ia hanya ingin sedikit ruang. Ruang untuk bernapas, berpikir, dan berhenti mendengar suara ayahnya yang terus meninggi setiap kali ibu tirinya membuka mulut. Sejak wanita itu datang, hidup Selena berubah jadi semacam drama sinetron jam delapan malam: penuh sindiran, air mata, dan pintu yang dibanting. Dia sudah berusaha keras untuk menerima, tapi setiap senyum manis dari ibu tirinya terasa seperti jebakan yang dilapisi madu. Ia tidak benci ayahnya. Ia hanya... tidak tahan melihatnya buta oleh cinta yang salah. Dan seperti semua kisah klasik dengan akhir yang bisa ditebak, yang kalah adalah Selena. Ia diusir-secara halus, tentu saja. Kalimatnya terdengar manis di mulut sang ayah: "Kau butuh waktu untuk menemukan dirimu sendiri, Selena." Padahal yang sebenarnya, ayahnya butuh waktu tanpa dirinya di rumah. Jakarta bukan tempat yang buruk, tapi juga bukan tempat yang akrab baginya. Ia tidak punya siapa-siapa di sana. Tidak teman, tidak keluarga. Yang ia punya hanyalah unit apartemen mungil yang dibelikan ayahnya-semacam permintaan maaf yang dibungkus dalam bentuk kunci. Dia mungkin akan mendapat pekerjaan atau belajar lagi, dia belum yakin saat itu, tetapi dia yakin semuanya akan baik-baik saja... sampai dia menyadari bahwa tetangga sebelahnya akan membuatnya terjaga sepanjang malam dengan semua bunyi benturan pada dinding.

More details
WpActionLinkContent Guidelines