Lutfi, 14 tahun, adalah anak yang terbiasa merasa tertinggal.
Nilainya rendah, emosinya sering meledak tanpa sebab yang jelas, dan ejekan telah menjadi bagian dari kesehariannya sejak SD. Setelah didiagnosis Borderline, Lutfi mulai sadar bahwa dirinya memang tidak pernah sepenuhnya cocok dengan dunia di sekitarnya.
Sekolah bukan tempat belajar baginya-melainkan tempat bertaha
Di tengah hari-hari itu, Lutfi bertemu Kim, seorang siswa yang hangat dan penuh empati. Kim adalah orang pertama yang memilih Lutfi tanpa syarat, mengajaknya masuk ke dunia musik, dan membuatnya merasa pantas untuk ada. Namun Kim menyimpan kenyataan pahit: ia mengidap gagal jantung, penyakit yang perlahan membatasi langkah dan waktunya sendiri.
Sementara itu, tekanan datang dari arah lain.
Jastin, siswa berprestasi yang terbiasa berada di atas, menjadikan Lutfi target ejekan dan perundungan. Bagi Jastin, kegagalan Lutfi adalah cermin ketakutan yang tidak pernah ingin ia akui. Konflik mereka tumbuh menjadi luka yang nyata-baik fisik maupun mental.
Di antara persahabatan yang rapuh, penyakit yang semakin berat, dan perundungan yang terus menghimpit, Lutfi dipaksa menghadapi pilihan terbesarnya: kembali lari seperti biasanya, atau tetap tinggal meski tahu kehilangan bisa datang kapan saja.
Ketika kondisi Kim memburuk dan dunia Lutfi terasa runtuh, satu hal menjadi jelas-tidak semua luka bisa disembuhkan, tetapi beberapa orang hadir untuk mengajarkan cara bertahan.
Abigail namanya, putra dari Dominic Salazar. Bocah lima tahun yang suka sekali dengan apel, hidupnya berubah setelah ibu membawanya pergi ke sebuah rumah mewah.
"Ini, Abigail! Salam kenal!"