
Di Bandung, kota yang selalu punya cara lembut untuk mempertemukan orang asing, Arga dan Naya dipertemukan oleh hujan dan secangkir kopi. Arga adalah mahasiswa teknik yang hidup dengan logika, perhitungan, dan ketepatan. Baginya, semua hal harus punya dasar yang kuat-termasuk hidup. Sementara Naya, mahasiswi Ilmu Komunikasi, percaya bahwa perasaan tak selalu butuh definisi. Ia terbiasa membaca manusia, tapi justru sering kehilangan arah saat berhadapan dengan hatinya sendiri. Keduanya datang dari dunia yang berbeda. Berpikir dengan cara yang berbeda. Menyikapi perasaan dengan keberanian yang berbeda pula. Kedekatan mereka tumbuh pelan, tanpa janji dan tanpa label. Hingga suatu saat, Arga sadar bahwa tidak semua hal bisa dihitung, dan Naya mengerti bahwa tidak semua kehadiran berarti kepastian. Di antara hujan Bandung, deadline kampus, dan rasa takut kehilangan, mereka harus memilih: bertahan dengan logika, atau berani mengambil risiko demi perasaan. Karena dalam hidup, tidak semua yang runtuh adalah kegagalan. Dan tidak semua yang pergi berhenti mencinta.All Rights Reserved
1 part