Broadcasting Love: Takut Jarum, Cinta Dokter

Broadcasting Love: Takut Jarum, Cinta Dokter

  • WpView
    Reads 34,573
  • WpVote
    Votes 965
  • WpPart
    Parts 80
WpMetadataReadComplete Fri, Feb 13, 2026
Irene Destianta, mahasiswi Universitas Media Nusantara semester akhir jurusan Broadcasting memiliki filosofi hidup yang sederhana: " lebih memilih begadang di ruang editing selama 48 jam atau mengangkat tripod seberat beban hidupnya daripada harus berurusan dengan rumah sakit." Irene memiliki fobia akut terhadap jarum suntik (trypanophobia) akut. Sebagai mahasiswi Broadcasting semester akhir, dunianya biasanya hanya seputar angle kamera dan script. Namun pagi ini, sebuah pengumuman di grup WhatsApp kelas menghancurkan ketenangannya. PENGUMUMAN: Seluruh mahasiswa tingkat akhir WAJIB mengikuti pemeriksaan kesehatan tahunan dan skrining kesehatan kerja (termasuk tes darah) akan dilaksanakan pagi ini pukul 09.00 di Gedung Serbaguna. Kehadiran bersifat WAJIB sebagai syarat pengajuan magang. Di sanalah ia bertemu dengan dr. Alberto Daulat, seorang dokter muda yang sedang bertugas untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di kampus tersebut. Berto dikenal dengan julukan "Ice Surgeon" karena wajahnya yang tampan namun datar, bicaranya yang ketus, dan efisiensinya yang tanpa ampun.
All Rights Reserved
#139
pasien
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Swara Ingkang Ora Katingal [END]
  • Ajudan & Atlet
  • Ex With Matcha
  • Heartbeat
  • Hati Diantara Kursi Dan Komando
  • Safa [END]
  • Melodi Mustard: Cinta di Balik Snelli
  • GALON ( Gagal Move On )
  • Melodi Gitar Nirbita
  • Married To The Chef

Tidak semua suara bisa didengar. Tidak semua cinta bisa dirasakan dengan mata. Ratri Maheswari hidup dengan prinsip kebebasan. Perempuan 27 tahun itu menolak semua aturan keluarga ningratnya yang selalu menuntut kesempurnaan. Baginya, hidup adalah tentang memilih jalan sendiri, bukan mengikuti garis takdir yang sudah disiapkan orang lain. Namun semuanya runtuh saat ia dipaksa menikah dengan seorang lelaki keturunan keraton Surakarta bernama Arkana Jayeng Prawira, pria berusia 24 tahun yang kehilangan penglihatannya akibat tragedi masa lalu. Arkana dikenal dingin, pendiam, dan terlalu dewasa untuk usianya. Ia hidup dengan luka yang tidak terlihat, sementara Ratri hidup dengan luka yang ia sembunyikan di balik tawa keras dan sikap keras kepala. Pernikahan yang awalnya hanyalah kewajiban keluarga berubah menjadi perjalanan yang memaksa mereka memahami arti kehilangan, pengabdian, dan cinta yang tumbuh tanpa diminta. Sebab terkadang, orang yang tidak bisa melihat... justru paling mampu memahami hati seseorang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines