"Aku capek tuhann, apakah aku akan mendapatkan kebahagiaan di dunia ini?"
"Kamu pasti akan bahagia Nadin," Ujar Arzan dingin.
"Kamu? kenapa kamu bisa berbicara begitu? aku capek! dunia selalu menyalah kan ku. Aku pembawa sial, aku ga pantas hidup,"
Arzan langsung memeluk erat Nadin, tubuh nya bergetar sangat hebat. Arzan sangat dibuat tak bisa berkata kata lagi oleh Nadin, "Kamu ga boleh berbicara begitu. Ada aku, ada abi, umi dan teman teman kamu yang lain nya juga. Kamu memang tidak bisa mendapatkan peran keluarga dari keluaga mu, tapi di sini bisa. Kamu ga boleh merasa sendiri apalagi berpikir seperti itu. Aku ga suka!"
"Kenapa kamu peduli dengan ku? orang orang membenci ku. Ga ada yang suka dengan aku, hiks..."
"Karena kamu hal yang paling berharga yang pernah aku temukan."
"Berharga? boleh aku memeluk mu begini?"
"Peluk?" Tanya Arzan
"Boleh ga? pelukan mu sangat membuatku nyaman dan tenang."
"Tentu boleh Humairah ku, peluk lah se-suka mu," Senyum Arzan sambil mengusap lembut rambut Nadin.
[CHAPTER MASIH LENGKAP, EXTRA CHAPTER TERSEDIA DI KARYAKARSA]
Sembari menunggu jadwal wisuda, Sabrina memutuskan menerima tawaran bekerja sementara di Event Planner startup milik seniornya di kampus.
Tentu saja, dia nggak berharap banyak.
Berurusan tiap hari dengan Bang Zane yang menyebalkan itu, siapa juga yang betah?
Sayangnya ... pandemi berkata lain.
Jika rencananya paling lama hanya bekerja selama tiga bulan, sekarang dia bukan saja harus mengulur-ulur durasi menjadi bawahan sang bos kampret, tapi juga jadi salah satu teman karantinanya ... entah sampai kapan.
PS. For better experience, baca WRONGFUL ENCOUNTER dulu