Bagi Arka, dunia tidak pernah ramah. Masa kecilnya telah di renggut, dipaksa menelan pahitnya hidup dan kerasnya setiap jalan yang ia ambil.
Namun di tengah dunia yang kelabu itu, ia merasa beruntung karena masih memiliki satu-satunya cahaya di hidupnya yang sudah terasa sangat kelam.
Arka bersumpah pada dirinya sendiri, meskipun punggungnya harus memikul beban langit, ia akan memperjuangkan kebahagiaan satu-satunya cahaya di hidupnya.
Ia akan bekerja, belajar, dan terus menerus begitu agar cahaya-nya tetap bahagia. Perlahan satu persatu cahaya lain juga mulai menyinari hidupnya..
Update setiap hari Sabtu dan Minggu
Cerita ini hanya fiksi belaka, jika ada kesamaan nama, latar, ataupun yang lain, itu hanya kebetulan belaka.
Cerita ini murni ide saya, ini juga cerita pertama yang saya buat. Saya menerima setiap saran ataupun kritik yang kalian berikan, semoga kalian menikmati ceritanya!
✧ Please don't steal, plagiarize, or copyright my story
✧ If you don't like it, just leave it
Selamat Membaca!!
Flora Severian terbangun sebagai Hazellette Ashcroft, istri Duke dalam novel fantasi sejarah.
Figuran yang akan dihancurkan oleh tokoh utama wanita, Mantan kekasih Duke, anak pelayan yang ditakdirkan merebut segalanya, karakter badass yang membuat hubungan Hazellette dengan suaminya kandas.
Flora mengerti satu hal begitu masuk ke novel,
Jika dia bertahan dia akan dihancurkan, karena itu pilihan Flora hanya kabur... menghapus namanya dari cerita.
Dalam novel ini, istri Duke tidak akan pernah diselamatkan.
Hazelletta akan disingkirkan... lalu dilupakan.
Dia harus membuat dunia percaya dia mati.
Lalu tokoh utama akan mengambil alih segalanya dan cerita berjalan tanpanya. Asal bisa hidup tenang Hazel tidak peduli apapun.
Tapi takdir tidak pernah benar-benar berteman dengannya. Karena anak yang dia tinggalkan bukan anak biasa.
"Jika aku kembali suatu hari, apa dunia ini masih akan memberiku tempat?"
-Hazellette Ashcroft-
"Kuburkan petinya! Itu hanya peti kosong. Aku akan menemukannya kembali... apa pun bentuknya. Istriku terlalu cerdas untuk mati begitu saja."
-Gillian L. Grandwood-