Ketika Perang Dunia Pertama meledak dan berubah menjadi neraka modern dengan teknologi yang terlalu maju untuk moral manusia, Kekaisaran Jerman berdiri di pusat pusaran kehancuran. Dikepung oleh hampir seluruh Eropa-Inggris, Prancis, Rusia, Italia, hingga Skandinavia-Jerman bertahan bukan dengan harapan kemenangan, melainkan dengan kehormatan yang kian rapuh. Di langit yang dipenuhi asap dan baja, muncul sosok yang seharusnya tidak ada: Gräfin Isolde von Stauffenberg, bangsawan tinggi Prusia, dingin, anggun, dan mematikan di udara. Dengan Focke-Wulf Fw 190 putih berhias mawar besi, Isolde terbang bukan sebagai pahlawan propaganda, melainkan sebagai penunda kematian-memberi prajurit di parit satu napas hidup tambahan, satu hari lagi untuk pulang dalam mimpi.
Di balik pertempuran udara yang brutal, kegagalan strategi, dan kekalahan demi kekalahan yang menumpuk, Isolde menyimpan sisi tersembunyi yang tak pernah ia perlihatkan di ruang rapat kekaisaran. Di kastil terpencilnya, jauh dari ibu kota dan hiruk-pikuk perang, ia membaca laporan korban dengan tangan gemetar dan menulis surat rahasia kepada satu orang yang secara politik adalah musuh: Pangeran Alexei Nikolaevich Romanov, perwira Kekaisaran Rusia. Cinta mereka lahir sebelum perang, dari diskusi strategi dan kesepian yang sama-dan bertahan secara diam-diam di tengah dunia yang menuntut mereka saling membunuh. Setiap surat yang dikirim lewat gagak hitam berlian adalah pengkhianatan kecil terhadap negara, namun satu-satunya kejujuran terhadap diri sendiri.
Saat langit semakin tidak memihak dan musuh semakin cepat, stabil, dan banyak, Isolde dipaksa memilih antara kehormatan negara dan nilai hidup manusia-termasuk hidupnya sendiri dan pria yang ia cintai di sisi medan perang yang berlawanan. "Mawar Es di Langit yang Dikepung" adalah kisah perang yang getir dan ironis, tempat pertempuran udara bukan lagi tentang kemenangan, melainkan tentang bertahan; dan cinta bukan tentang bersatu, melainkan kehidupan
All Rights Reserved