24 parts Ongoing Tidak ada manusia yang benar-benar lahir di garis start yang sama.
Keluarga itu-yang namanya selalu disebut dengan nada kagum sekaligus iri-tumbuh di atas garis start yang sempurna. Hidup mereka telah dijamin aman dan nyaman hingga dewasa. Mereka hanya perlu patuh, mengikuti aturan, dan tumbuh sesuai standar keluarga yang telah ditetapkan. Di balik kemewahan itu, mereka tidak pernah benar-benar mengenal arti kebebasan, apalagi kehangatan.
Namun, di luar lingkaran emas tersebut, ada kehidupan yang berjalan dengan ritme berbeda.
Ada yang belajar sejak dini bahwa nilai dirinya tidak diukur dari silsilah keluarga, melainkan dari apa yang mampu ia perjuangkan sendiri. Ada pula yang memilih untuk lebih banyak mendengar dengan duduk lebih lama dan membaca lebih dalam untuk memahami manusia tanpa perlu merasa paling benar. Ia tahu, tidak semua luka membutuhkan jawaban-sebagian hanya butuh ditemani dan dipeluk erat. Ada pula yang terbiasa merawat luka yang ia sendiri pun tak tahu dari mana asalnya.
Di sana, ada perempuan-perempuan yang hidup dengan cara mereka sendiri: menyimpan kelembutan, merawat mimpi, dan tertawa lepas tanpa rasa bersalah. Mereka adalah para petarung yang merajut mimpi di sela-sela lelahnya bertahan hidup, tumbuh dalam ruang yang mereka ciptakan sendiri-sebuah ruang yang penuh kebebasan dan kehangatan.
Sebelum mereka saling bertemu, tidak pernah ada janji tentang kebahagiaan.
Yang ada hanyalah perjalanan masing-masing-tentang ambisi, jarak, kelas sosial, dan pilihan untuk tetap menjadi manusia di tengah tuntutan untuk menjadi "sesuatu". Di atas semua itu, ada satu keyakinan kolot yang diwariskan turun-temurun: tidak semua orang pantas berdiri sejajar.
Keyakinan itulah yang kelak akan diuji. Bukan oleh pemberontakan besar yang berdarah-darah, melainkan oleh pertemuan-pertemuan kecil, oleh perasaan yang tumbuh diam-diam, dan oleh keberanian untuk berkata "tidak"-bahkan jika harus menentang dan membahayakan darah mereka sendiri.