velvet sin.

velvet sin.

  • WpView
    LECTURES 49
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication lun., févr. 9, 2026
Jeie Cheries Nohara dibesarkan bukan untuk bertahan, melainkan untuk dilindungi. Ia adalah anak kesayangan, putri kecil yang hidupnya selalu dibungkus kehangatan.Dunia diperkenalkan kepadanya melalui warna pink, senyum keluarga, dan larangan halus yang tidak pernah ia bantah. Tangannya tidak pernah diizinkan bekerja, bukan karena lemah, tetapi karena terlalu berharga untuk disentuh kerasnya dunia. Jeie penurut, polos, dan percaya bahwa rumah akan selalu menjadi tempat paling aman. Ia tidak tahu bahwa namanya adalah kutukan Di Los Santos, keluarga Caspia hidup seperti bayangan. Tidak banyak yang melihat mereka, namun semua orang takut menyebutnya. Mereka tidak perlu muncul dalam perdagangan gelap atau pertumpahan darah terbuka. keluarga Nohara adalah musuh terbesar yang sejak lama menunggu ajalnya. Malam itu, Jeie dicabut dari dunianya yang lembut. Bukan untuk diselamatkan, melainkan untuk dihabisi. Namun rencana berubah. Putri musuh tidak dibunuh, melainkan dipelihara. Dijadikan pembantu di kediaman Caspia, tempat marmer terasa lebih dingin daripada senyuman penghuninya. Seorang gadis yang tidak pernah memegang sapu kini dipaksa belajar arti tunduk, perintah, dan sunyi yang menekan dada. Di tengah rumah itu berdiri Grakhiel Sanlord Caspia. Salah satu pilar keluarga Caspia. Salah satu nama yang tidak boleh dibantah. Dingin, setiaa, dan dibesarkan untuk tidak memiliki hati. Hingga tatapannya bertemu Jeie. Sejak saat itu, sesuatu dalam dirinya retak pelan. Bukan cinta, bukan iba, melainkan perasaan asing yang tidak pernah diberi nama dalam keluarga Caspia. Jeie adalah musuh. Jeie juga terlalu polos untuk dunia ini. Dan Grakhiel mulai bertanya pada dirinya sendiri, apakah darah selalu harus dibayar dengan darah. Di antara dendam turun temurun, kesetiaan yang mematikan, dan perasaan terlarang yang tumbuh dalam diam, sebuah pengkhianatan mulai bernafas. Akankah Grakhiel tetap menjadi Caspia atau menghancurkan segalanya demi gadis yang seharusnya mati malam itu.
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Prahara Lamaran [END]
  • Salah Status
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Kembang Desa
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Nakula

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives de Contenu