The House That Was Bought With Wounds

The House That Was Bought With Wounds

  • WpView
    Reads 8,133
  • WpVote
    Votes 965
  • WpPart
    Parts 21
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Mar 23, 2026
James membeli sebuah rumah bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk menyelamatkan empat adiknya dari rumah lama yang penuh luka. Juhoon yang pendiam, Martin yang hidup dengan musik, Seonghyeon si jenius akademik, dan Keonho bocah yang disebut "produk gagal" oleh orang tuanya sendiri. Ditinggalkan oleh orang tua yang toxic, mereka belajar membangun keluarga dengan tangan mereka sendiri. Tentang luka masa kecil, tentang anak yang selalu tertinggal, dan tentang rumah yang akhirnya bernapas kembali. Ini bukan cerita tentang keluarga sempurna. Ini cerita tentang keluarga yang memilih bertahan. Hii-!!! I think isinya bakal lebih ke Keonho... haha sorryy and I'm still new to writing like this so please guide me if there is any messy language. Your votes and comments are my encouragement!!
All Rights Reserved
#943
juhoon
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "Beneath Her Forbidden Touch"
  • Drama di Pintu Kosan
  • karakter kecil ini mengasuh keluarga iblis?! {End}
  • REGAN's Crazy Wife
  • Chana's Transmigrasi
  • Mission
  • BACKSTREET
  • Change The Plot (Niel)

Elara Vionette tidak pernah mempertanyakan pekerjaan ibunya. Baginya, Livia Asteria hanyalah seorang pelayan yang pulang setiap malam dengan tubuh lelah dan senyum lembut. Sampai suatu hari, ibunya jatuh sakit. Dan Elara diminta menggantikannya. Rumah itu besar. Terlalu besar untuk menyimpan rahasia sekecil apa pun. Pernikahan sang nyonya dan suaminya hanyalah kontrak tanpa cinta. Lorong-lorongnya dipenuhi keheningan. Dan di balik pintu hitam dengan gagang emas itu... ada sesuatu yang tak pernah Elara bayangkan. Valeria Devianne tidak pernah tertarik pada siapa pun. Dingin. Tinggi. Elegan. Tak tersentuh. Sampai ia melihat putri pelayannya. Apa yang awalnya hanya rasa ingin tahu... berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Lebih gelap. Lebih berbahaya. Karena beberapa rasa lapar tidak pernah benar-benar hilang. Mereka hanya menunggu untuk diwariskan. Dan Elara tidak tahu... bahwa malam pertama ia mengetuk pintu itu, ia sedang melangkah masuk ke dalam kelaparan yang bukan miliknya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines