SENGKETA RASA

SENGKETA RASA

  • WpView
    Reads 10,386
  • WpVote
    Votes 948
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 15, 2026
​"Dunia gue itu isinya mesin, oli, sama asep knalpot. Berisik, emang. Tapi semenjak lo dateng, suara di kepala gue isinya suara omelan lo doang, Jem." Januarta Dirgantara. ​Jemian Alister punya satu prinsip Jauhi anak Teknik. Terutama yang modelannya kayak Januarta. Cowok itu adalah polusi suara berjalan dengan motor Ninja berisik dan hobi geber-geber di depan kosan Jemi setiap maghrib. Jemi benci Janu. Titik. ​Tapi semesta punya selera humor yang bajingan. ​Gara-gara insiden kopi tumpah dan rekomendasi asal-asalan dari dosen, Jemi terjebak menjadi Sekretaris Umum mendampingi Janu yang terpilih jadi Ketua Pelaksana Dies Natalis Kampus. Jemi yang perfeksionis dipaksa waras menghadapi Janu yang selengean. ​"Anak Teknik sama anak Komunikasi itu nggak bakal nyambung. Yang satu ngomongin mesin, yang satu ngomongin perasaan." - Jemi ​"Jem, lo kalau marah jangan lucu-lucu napa? Gue khilaf, ntar lo yang repot." -Janu
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Prahara Lamaran [END]
  • Kembang Desa
  • Nakula
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Salah Status
  • Hello Mr. Komrad (Complete)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines