"Kalau aku harus hidup tanpa kamu, aku bisa. Tapi aku tidak mau."
Haydar tidak pernah benar-benar sembuh dari Amala. Setelah hubungan keduanya usai, ia hanya belajar hidup dalam kehampaan dan sisa-sisa kenangan yang masih mengalir di darahnya, memenuhi tiap-tiap dinding jantungnya..
Cintanya tidak meledak, tidak memaksa, tidak pula memenjarakan-hanya mengendap. Mengisi setiap celah sunyi dengan kebutuhan akan satu tubuh, satu suara, satu kehadiran.
Amala tahu, Haydar mencintainya terlalu dalam. Tahu bahwa laki-laki muda itu siap menyerahkan seluruh hidup dan matinya, hanya untuk tetap tinggal di sisi Amala. Meski tanpa status, tanpa kepastian, tanpa janji masa depan.
Meski begitu, entah mengapa, Amala membiarkannya.
Menjadi rumah bagi Haydar memberi Amala rasa dianggap ada, dibutuhkan, dijadikan dunia yang utuh. Karena dalam obsesi lembut itu, ada seseorang yang melihatnya sebagai satu-satunya alasan untuk tetap hidup.
Sebuah kisah tentang ketergantungan yang tenang, obsesi yang manis, di antara dua orang yang tetap memilih untuk bersama meski cinta tak lagi seimbang.
All Rights Reserved