Tom Marvolo Riddle [END]

Tom Marvolo Riddle [END]

  • WpView
    Reads 224
  • WpVote
    Votes 19
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Apr 5, 2026
"Jangan pernah menyanyi untuk orang lain. Hanya di depanku. Mengerti?" Di sela-sela dentuman bom Perang Dunia II di London dan koridor dingin Hogwarts, ada sebuah rahasia yang tidak pernah dicatat oleh buku sejarah sihir. Tom Marvolo Riddle tidak pernah benar-benar sendiri. Di bayang-bayangnya, selalu ada Aura-gadis dengan aroma rempah tropis dan nyanyian yang mampu meredam kebisingan di kepalanya. Dari tahun pertama yang penuh rahasia hingga tahun ketujuh yang berdarah, ini adalah kisah tentang bagaimana seorang monster dikendalikan oleh rasa, dan bagaimana seorang gadis menukarkan kebebasannya demi sebuah janji abadi. Sebelum Harry Potter datang, kegelapan sudah memiliki jantungnya sendiri. Sebuah cerita tentang kesepian, ambisi, dan suara yang tak boleh hilang.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Satu Tahun Saja
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Daddy Sitter 21+ (END)
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Almost Married (On Going)
  • Kembang Desa
  • Salah Status
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Merciless Ex Obsession

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines