Pertukaran Cinta

Pertukaran Cinta

  • WpView
    Reads 17,526
  • WpVote
    Votes 48
  • WpPart
    Parts 50
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Apr 6, 2026
Ia hanya bermaksud menabur perselisihan, menciptakan kekacauan, dan melihat ibu mertua atau ayah mertuanya mempermalukan diri sendiri, tetapi ia tidak pernah membayangkan hal-hal akan meningkat hingga ke titik yang begitu tak tertahankan dan memalukan. Membuat seorang tetua berdiri di atas meja dan menanggalkan pakaian di depan putra dan menantunya? Ini jelas melampaui ranah permainan, menjadi tindakan penghinaan pribadi yang terang-terangan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Keluarga Calon Istriku
  • BELENGGU BIRAHI - SEASON 1
  • PAKDHE WONGSO - 1
  • Antara Gamis Syar'i dan Nafsu yang Tertinggal di Kamar
  • API LIAR
  • Romansa Ayah Mertua & Menantu
  • MANDUL
  • ISTRIKU DAN PRIA LAIN
  • Dunia Baru Istriku: Candu Gairah Sang Murid
  • Travel Menjadi Saksi Bisu Kisahku

Aku bernama Rizal yang berusia 27 tahun dan akan menikah dengan calon istriku bernama Nisa (25 Tahun), yang akan menceritakan tentang kejadian affair yang terjadi antaran rizal dan juga beberapa wanita dikeluarga nisa sebut saja Rahma : calon ibu mertuaku yang anggun dan cantik berusia 45 tahun Rima kakak pertama nisa yang berusia 30 tahun dan ajeng kakak kedua nisa yang berusia 27 tahun Sinar matahari sore menelusup melalui tirai renda di rumah keluarga Nisa, membiaskan bayang-bayang belang di atas lantai kayu yang mengilap. Aroma kapulaga dan kayu manis masih tertinggal di udara, sisa-sisa teh yang diseduh Rahma sebelumnya. Rizal duduk di sofa empuk ruang tamu, membolak-balik majalah yang sebenarnya tidak ia baca; pikirannya melayang entah ke mana. Tunangannya, Nisa, sedang pergi keluar untuk urusan mendesak, meninggalkannya sendirian bersama keluarga perempuan itu-sebuah situasi yang kian hari kian sarat dengan ketegangan. Rahma, ibu Nisa, melangkah anggun melintasi ruangan. Rok panjangnya yang menjuntai menyapu lantai di setiap langkah. Hari ini ia mengenakan hijab berwarna hijau zamrud tua; kainnya tersampir longgar di bahu, memperlihatkan lekukan tulang selangkanya yang indah. Rizal memperhatikannya dari sudut mata. Jantungnya berpacu saat melihat Rahma membungkuk sedikit untuk merapikan vas di meja kopi-gerakan yang membuat hijabnya tersingkap, cukup untuk memperlihatkan gundukan dadanya di balik blus yang dikenakan. Rizal menelan ludah dengan susah payah, merasakan desakan yang menegang di balik celananya. Ini salah. Benar-benar salah. Namun, pemikiran itu justru membuat api hasratnya kian berkobar.

More details
WpActionLinkContent Guidelines