Aku selalu percaya bahwa persahabatan adalah bentuk hubungan paling aman di dunia. Ia tidak menuntut, tidak menekan, dan-katanya-tidak meninggalkan luka sedalam cinta. Setidaknya itu yang kuyakini bertahun-tahun lalu, sebelum aku benar-benar mengerti betapa tipisnya batas antara kebersamaan dan keterikatan, antara nyaman dan kehilangan kendali.
Namaku Angeline. Sebagian orang memanggilku Jay. Panggilan itu lahir bukan dari sesuatu yang istimewa, hanya kebiasaan lama yang bertahan sampai sekarang. Aku mahasiswa di sebuah universitas di Bangkok, kota yang tidak pernah benar-benar tidur. Di sini, waktu berjalan cepat, dan orang-orang belajar menyesuaikan diri atau tertinggal. Aku memilih berenang-secara harfiah dan tidak-agar tidak tenggelam.
Ginny sudah ada dalam hidupku jauh sebelum aku mengenal siapa diriku sekarang. Kami bertemu saat segalanya masih sederhana, ketika masa depan terasa seperti sesuatu yang bisa ditunda. Ia tertawa lebih mudah dariku, berbicara tanpa banyak pertimbangan, dan selalu tahu bagaimana membuat ruangan terasa lebih hidup hanya dengan kehadirannya. Bersamanya, aku tidak perlu menjelaskan banyak hal. Kami mengerti satu sama lain dengan cara yang sunyi.
Mungkin dari situlah semuanya bermula.
Hubungan kami berubah pelan-pelan, tanpa pengumuman dan tanpa kesepakatan yang jelas. Tidak ada hari khusus yang bisa kutunjuk sebagai awal. Tidak ada kalimat yang menandai batas baru. Yang ada hanya kebiasaan yang bergeser-datang lebih sering, pulang lebih lambat, sentuhan yang terlalu lama untuk disebut wajar, dan keheningan yang tidak lagi canggung.
Kami menyebutnya tidak apa-apa. Kami menyebutnya dewasa. Kami menyebutnya saling mengerti.
All Rights Reserved