Di sebuah perumahan yang terlihat tenang, berdiri dua rumah yang saling berhadapan. Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Keluarga yang utuh, lingkungan yang rapi dan nak-anak yang terlihat normal. Tapi di dalamnya, rumah-rumah itu retak. Senandika dan Arunika tumbuh di keluarga yang terlihat sempurna di mata orang lain, namun hancur di dalam. Pertengkaran orang tua, bentakan, tekanan, hukuman, dan luka menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka sejak kecil.
Mereka bertemu sebagai dua anak yang sama-sama tidak merasa aman di rumahnya sendiri. Bermain di taman dekat hutan. Bersembunyi di rumah pohon. Mengukir nama di batang pohon tua. Dan saling mengirim surat lewat pesawat kertas dari balkon kamar masing-masing.
Di dunia yang terlalu keras untuk anak-anak,
mereka belajar satu hal: 'bertahan'
Pesawat Kertas dari Rumah yang Patah
adalah kisah tentang masa kecil yang tidak pernah utuh, tentang trauma yang tumbuh diam-diam,
tentang dua anak yang tidak diselamatkan oleh keluarganya, tapi saling menjaga agar tidak hancur sendirian. Tentang luka yang dibawa sampai dewasa. Tentang rumah yang tidak pernah menjadi tempat pulang. Dan tentang bertahan, ketika satu-satunya pilihan hanyalah tetap hidup.
All Rights Reserved