
AMUKTI (Sumpah Terakhir Mahapatih) Masuk ke ruang kerja Pak Amada itu ibarat menyerahkan nyawa ke malaikat maut. Dosen paling killer se-kampus yang selalu rapi dengan kemeja batik wangi setrikaan itu tidak pernah tersenyum. Dingin, kaku, dan mematikan. Gue ke sana cuma mau satu hal: minta tanda tangan skripsi biar cepat lulus! Tapi, begitu pintu tertutup, dunia gue berputar. Aroma ruangan yang tadinya bau pengharum ruangan mahal berubah jadi bau dupa dan keringat jantan. Pak Amada yang biasanya tertutup kemeja batik, mendadak berdiri di depan gue tanpa atasan, hanya memakai jarik dan keris yang terselip di pinggang. Sebelum gue sempat teriak, dia sudah memeluk gue erat-seerat orang yang nggak mau kehilangan nyawanya dua kali. "Cah ayu... akhirnya kamu kembali," bisiknya. Suara beratnya nggak lagi terdengar killer, tapi penuh luka. Gue pikir ini hipnotis, tapi di luar jendela, gedung kampus sudah hilang. Berganti dengan megahnya tembok bata merah Trowulan di bawah pimpinan Ratu Tribuwana Tunggadewi. Hayam Wuruk bahkan mungkin belum lahir, dan gue terjebak di masa lalu yang gue kira lokasi syuting. Gue nggak peduli soal Sumpah Palapa atau perang wilayah. Masalahnya cuma satu: Pak Amada, balikin saya ke masa depan! Skripsi saya belum kelar! ... START : 2026Alle Rechte vorbehalten
1 Kapitel