AMUKTI
  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 12, 2026
AMUKTI (Sumpah Terakhir Mahapatih) Masuk ke ruang kerja Pak Amada itu ibarat menyerahkan nyawa ke malaikat maut. Dosen paling killer se-kampus yang selalu rapi dengan kemeja batik wangi setrikaan itu tidak pernah tersenyum. Dingin, kaku, dan mematikan. Gue ke sana cuma mau satu hal: minta tanda tangan skripsi biar cepat lulus! Tapi, begitu pintu tertutup, dunia gue berputar. Aroma ruangan yang tadinya bau pengharum ruangan mahal berubah jadi bau dupa dan keringat jantan. Pak Amada yang biasanya tertutup kemeja batik, mendadak berdiri di depan gue tanpa atasan, hanya memakai jarik dan keris yang terselip di pinggang. Sebelum gue sempat teriak, dia sudah memeluk gue erat-seerat orang yang nggak mau kehilangan nyawanya dua kali. "Cah ayu... akhirnya kamu kembali," bisiknya. Suara beratnya nggak lagi terdengar killer, tapi penuh luka. Gue pikir ini hipnotis, tapi di luar jendela, gedung kampus sudah hilang. Berganti dengan megahnya tembok bata merah Trowulan di bawah pimpinan Ratu Tribuwana Tunggadewi. Hayam Wuruk bahkan mungkin belum lahir, dan gue terjebak di masa lalu yang gue kira lokasi syuting. Gue nggak peduli soal Sumpah Palapa atau perang wilayah. Masalahnya cuma satu: Pak Amada, balikin saya ke masa depan! Skripsi saya belum kelar! ... START : 2026
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Asmaranala
  • SINGASARI, I'm Coming! (END)
  • 𝐒𝐓𝐎𝐑𝐘 𝟏𝟗𝟔𝟓 ║𝐏𝐈𝐄𝐑𝐑𝐄 𝐓𝐄𝐍𝐃𝐄𝐀𝐍
  • The Palace Stewardess
  • Duchess of Valtor
  • Permaisuri Palsu dan Harem Yang Kucuri
  • BUN𝖦A PRIBUΜI |ᴅɪғғᴇʀᴇɴᴛ ʙʟᴏᴏᴅ| [END]
  • SUAMI KAISAR

Di awal kisah, aku dan kamu satu. Parasku itu parasmu. Ragaku serupa ragamu. Namun hidupmu ibarat jalan landai berhias ilalang, sedangkan hidupku layaknya tikungan curam terjal berbatu. Dirimu begelimang kasih, tapi diriku berbalut nestapa. Mudah untukmu, yang sulit jadi bagianku. Kamu beruntung, aku yang sial. Kenapa harus kamu, bukan aku? Memang apa kesalahanku? Salahkan jika kini aku ingin berada di posisimu? Saudariku, kumohon menghilanglah selamanya. PERHATIAN!!! Cerita ini seluruhnya FIKTIF belaka serta tidak terkait dengan sejarah kerajaan manapun walau kisah berlatar kerajaan masa lampau. Semua nama, tokoh, karakter, tempat, waktu, dan jalan cerita hanya rekaan demi kepentingan HIBURAN semata.

More details
WpActionLinkContent Guidelines