OOPS, I LIKE HIM!

OOPS, I LIKE HIM!

  • WpView
    Reads 258
  • WpVote
    Votes 154
  • WpPart
    Parts 9
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jun 11, 2026
Terdesak oleh ekspektasi teman-temannya, ia menciptakan sebuah kebohongan kecil - seorang kekasih fiktif demi menyempurnakan malam prom. Namun, fantasi itu membutuhkan wajah nyata dan Luke menjadi kandidat yang tepat. Hanya satu malam, tanpa ketertarikan, lalu kembali menjadi orang asing. Dansa di bawah lampu kristal meninggalkan jejak yang tak mudah terhapus. Saat Luke menghilang tanpa salam perpisahan, Charlotte mengira narasi mereka telah usai. Saat mereka bertemu kembali, Charlotte nyaris tidak mengenalinya. Di balik kemeja rapinya, ada tato yang tersembunyi dan masa lalu yang tertutup rapi. Tanpa ia duga, Luke telah menjadi dirty little secret yang justru menjerat hatinya lebih dalam dari sekadar kebohongan satu malam.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • De Andere Weg (END)
  • The Villain Mother
  • Almost Married (END)
  • Chasing Sanara
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines